"Kalau tidak teriak, memangnya ada yang dengar?
Tapi kalau teriak pun, memangnya ada yang dengar?"
To tell everyone the truth, I'm not okay. I. Am. NOT. Doing. Well. Gue rasa dua-tiga tahun ke belakang? Setiap kali ada orang yang tanya, "Gimana kabarnya?" Gue pasti diam sejenak, bingung mau jawab apa. Karena gue sebenarnya sedang tidak baik-baik saja? Pada akhirnya entah gue hanya menjawab "Hehe, iya..." atau berbohong, "Baik, apa kabar?". Wow, kadang gue berpikir gue cukup hebat memainkan peran "Orang-happy-gak-punya-masalah-tiap-hari-masih-kpopan" ini.
Dengan berbagai problem kehidupan akhir-akhir ini, gue tidak menyangka menjadi orang yang cengeng, karena seingat gue dulu gue adalah orang yang susah nangis. Nonton drama atau film sedih lebih men-trigger air mata gue keluar daripada kejadian-kejadian nyata yang ada di depan mata. Bahkan gue ingat di hari terakhir sekolah kelas 6 SD, ketika teman-teman lain berpelukan sambil nangis, gue nangis bercanda dengan basahin mata pakai air kran (WKWK PLIS). Padahal mungkin kalau gue nonton yang berbau perpisahan di drama atau film, gue bisa nangis jelek.
Gue tahu yang sedang gue rasakan dan alami dua-tiga tahun ke belakang—sampai saat ini—sebenarnya cukup berat, and that's the only why I let myself crying when I feel like I can't hold it in anymore. Malah tadinya gue menganggap semua ini hal biasa, mungkin banyak orang lain di luar sana yang mengalaminya lebih parah, sampai akhirnya gue suka tiba-tiba bengong terus air mata netes sendiri. DAYUM.
"But even after time, there are things that don't heal. Because I didn't love me completely,
it's a poor night for my heart" - My Sea (IU), 2021 (eng trans cr)
Gak munafik, rasanya dada sesak sekali kalau sekelibat kepikiran tentang apa yang telah gue lewati dan apa yang sedang harus gue hadapi sekarang. Untuk kesekian kalinya gue teriak sekencang-kencangnya dalam hati, yang mana itu GAK ENAK BANGET. Ini beneran gak ada tempat buat gue teriak? Ini beneran gak ada tempat buat gue sembunyi?
Sesekali pingin menghilang aja gitu supaya gak dicariin. Supaya gak perlu fake smile di depan orang lain. Supaya gak perlu akting jadi yang paling kuat, menguatkan orang lain, padahal sebenarnya ya L E M A H. Terkadang suka kasihan sama diri sendiri, setiap harinya harus pura-pura baik-baik aja, apalagi pekerjaan sehari-hari memang mengharuskan ketemu orang dan memasang senyum. Entah sampai kapan bisa bertahan seperti ini.
Gue tipe yang diam kalau lagi sedih. Gue tipe yang diam kalau lagi kecewa. Gue tipe yang diam kalau lagi marah. Eh, tapi gak juga sih, karena kadang upload story di 2nd Instagram dengan background hitam dan tulisan cilik sampai teman-teman gue bilang mereka harus screenshot dulu terus di-zoom biar bisa baca (LOL padahal kalian gak perlu sampai ngelakuin itu gais😔). Gue pikir ngapain sih cerita-cerita ke orang tentang masalah pribadi apalagi yang termasuk cukup privasi. Kalaupun ditanya, apakah mereka hanya kepo atau betulan peduli?
"Unable to rely on anything, I chose to only rely on myself.
But now that I'm shaking, who can I even hold on to for support?"
- Streetlight (Changbin ft. Bangchan), 2020 (eng trans cr)
Sulit sekali untuk membuka mulut. Mungkin sudah terbiasa jadi orang yang mendengar. Tapi, kalau begini terus, apakah ada yang ngerti kenapa gue suka tiba-tiba bengong? Apakah ada yang ngerti kenapa gue sering menghela napas panjang? Apakah ada yang ngerti kenapa gue suka menggerutu sendiri? Di sisi lain, gue gak mau sampai disalahpahami. Contoh kecilnya, gue pernah menghela napas panjang di depan komputer di kantor sambil natap kerjaan, kebetulan di samping gue lagi ada salah satu Atasan. Beliau langsung nanya, "Kenapa kamu? Hahaha pusing ya?". Padahal saat itu gue otomatis begitu karena habis gak sengaja baca hal yang memancing gue, bukan karena pusing banyak kerjaan. Ya, pernah terjadi seperti itu.. pernah terjadi.. pernah terja...di. Waduh-
Honestly, gue sudah membiarkan draft postingan ini selama beberapa waktu, karena gue merasa hidup gue sedikit-sedikit berjalan naik menuju "normal", tapi setiap kali gue merasa seperti itu, ada aja hal yang membuat jatuh lagi dan akhirnya gue kembali lagi ke draft ini. Melanjutkan menulis ini semua.
Lagian, masalah tuh gak bisa ya datangnya satu-satu? Harus banget barengan? Gue sama psikolog gue aja diminta buat cari temen deket! Ini kenapa masalah hidup gue lebih punya banyak temen malah kalau dateng ROMBONGAN?? Seolah-olah gak kasih orang yang diterpanya (baca: gue) buat napas. Menerpa seolah-olah gak lihat gue lagi berusaha menyelesaikan salah satunya. Seolah-olah gak mau memberikan gue satu momeeeen aja untuk bisa senyum dan ketawa dengan tulus, tanpa beban.
Bulan Mei lalu, gue (AKHIRNYA) nonton perform DAY6 langsung di "Saranghaeyo Indonesia 2024". Andai 2020 tidak mengambil "Head in the Clouds" gue, gue pasti bisa nonton mereka sebagai OT5—Ok kita bukan mau bahas itu (wkwk). Yang membuat gue "ANJIR!" adalah MEREKA BAWAIN "HAPPY" COY! Tahu arti lagunya aja udah hati ini udah tersayat-sayat, belum lagi bayangin YoungK di konser sebelumnya nyanyiin lagu ini sambil nangis, gue yang sedang relate pun sempat bengong sekejap di bangku sebelum akhirnya ikutan sing along meluapkan isi hati ini.
"I just wanna live easily, simply, but
why is every single day of mine surprisingly difficult?
May I be happy?
I wanna be smiling every day
I wanna be without worries
Anyone, please let me know the answer"
- HAPPY (DAY6), 2024 (eng trans cr)
Terima kasih untuk lirik lagunya DAY6, aku jadi melemparkan pertanyaan ini ke Tuhan.
"Ya Allah, aku tahu masalah hidup tidak akan mungkin hilang sepenuhnya, jadi mohon jangan kasih aku kesulitan yang di luar batas mampuku. Sesungguhnya aku hanya ingin kehidupan yang simple, tidak banyak aneh-aneh, bolehkah? Aku pingin senyum tanpa banyak kekhawatiran aja kok, bolehkah?"
Ya, pada akhirnya ternyata di sinilah gue. Tersadar setiap kali gue didatangi beban dan pikiran yang berat, gue selalu kembali kepada-Nya. Maaf, bukan mau sok apa. Tapi gue pun jadi tahu, mungkin semua ini terjadi supaya gue gak lupa denganNya. Supaya gue lebih banyak menghadapNya, berdoa, memohon. Buka-bukaan aja, sudah gak kehitung berapa kali gue nangis di shalat gue. But for real, rasanya lega. BANGET.
Beruntung di satu hal, tapi kurang beruntung di satu hal lainnya, gapapa kan? Yang penting tetap bersyukur.
Sesekali merasa hidup di "atas", tapi sesekali juga merasakan hidup di "bawah", gapapa kan? Yang penting tetap bersyukur.
Apa yang kamu syukuri hari ini?
Sudah ucap "Alhamdulillah" belum atas segala hal baik yang tetap ada, di antara hal-hal yang tidak kamu inginkan ini?
Terima kasih Tuhan, aku rasa aku masih tahan.
Terima kasih, telah membuatku masih bertahan. Di sini.
"Will there ever be such a day when it’s just good?
The kind of day where I smile
without any worries for tomorrow
One after another,
something always seems to get in the way
Will i be able to be truly happy?"
- HAPPY (DAY6), 2024 (eng trans cr)


No comments:
Post a Comment